Ketua IKA UR , Ahmad Hijazi : Di Tangan Andi Rachman, Provinsi Riau Mulai Bangkit
terasunri.web.id - Untuk
melakukan penilaian terhadap perekonomian suatu daerah, tidak bisa dengan
mengukur dari kondisi kekinian. Parameter ekonomi tidak terjadi sesaat, akan
tetapi melalui proses akibat kondisi dan dampak tahunan. Demikian catatan Ahmad Hijazi, Ketua
IKA Universitas Riau (IKA UR ) yang juga Sekretaris Daerah Provinsi Riau,
sebagaimana dikutip dari situs riausatu.com.
"Kerja empat-lima tahun lalu, baru berdampak sekarang. Dan
kerja sekarang, baru bisa terlihat empat-lima tahun mendatang," nilai
sarjana ekonomi lulusan Universitas Riau angkatan 1987 ini. Menurutnya, pemerintahan yang dipimpin Arsyadjuliandi Rachman
saat ini pada kenyataannya adalah Pemerintahan Recovery (cuci piring).
"Sumber daya dan tenaga terkuras untuk menyelesaikan sejumlah persoalan
masa lalu," tegas Ketua Umum IKA Universitas Riau ini seraya menyebut lima
persoalan masa lalu itu.
Pertama, proyek mangkrak Jembatan Siak 4 yang memerlukan
pembenahan administrasi, dan kajian teknis ulang. Alhamdulillah sudah bisa
dilanjutkan. Kedua, pembayaran utang Main Stadion dan infrastruktur dengan
segala persoalan pasca OTT pemerintahan sebelumnya. Alhamdulillah juga sudah
mulai diangsur/dibayar yang ternyata cukup menguras belanja APBD, bahkan harus
merasionalisasi alokasi belanja penting lainnya untuk kebutuhan masyarakat.
Ketiga, Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau yang berlarut-larut dan
menjadi penghambat realisasi investasi. Dibahas dan dikoordinasi bertahun
tahun. Alhamdulillah, sudah ada kemajuan tinggal pengesahan. Keempat, permasalahan BUMD terutama RAL yang tidak saja bangkrut
dan menimbulkan masalah bagi pemegang saham lainnya, tapi juga banyak beban
utang pajak dan sebagainya. Ini harus diurus dan perlu kehati-hatian.
Kelima, puluhan beban akibat pembiaran kasus masa lalu yang incrach
kalah di pengadilan. Kasus-kasus ini harus diurus Pemerintahan Andi Rachman, di
antaranya Kasus Tanah UNRI, Tanah Eks Kanwil Pariwisata, dan utang-utang Pasca
PON Pemerintahan sebelumnya. "Itu semua beban pemerintahan saat ini. Persoalannya bagi
Pemerintahan Andi Rachman bukan hanya membayar, tapi berat dan harus hati-hati
menyelesaikan administrasinya, masalah teknisnya, dampak turunannya. Itu semua
(diselesaikan) dengan komitmen ikhlas membenahi dan membangun Riau," tegas
Ahmad Hijazi.
Lebih lanjut dia mengatakan, melihat dan membandingkan
perekonomian Riau juga tidak sesederhana yang di-judgment Lukman Eddy, bakal
calon Gubernur Riau dalam suatu kesempatan. Perekonomian Riau sudah terbangun
dan ditopang sektor Migas, pertanian/perkebunan, dan pertambangan. "Kita tahu sektor-sektor tersebut sangat rentan dengan
pengaruh harga pasar global. Dampaknya sangat terasa bagi Indonesia, tentunya
karena Riau share terbesar di sektor-sektor itu, maka Riau yang paling
terdampak kontraksi perekonomian," ujar alumni S2 Universitas Airlangga
ini.
Hal ini, ungkapnya, juga dapat dilihat dari analisis sektoral.
Dengan mengesampingkan sektor Migas, artinya kalau perekonomian Riau tanpa
migas angka pertumbuhannya mencapai 4,37 % YoY. Itu masih dipengaruhi
konstraksi sektor pertanian/perkebunan yang kita tahu kontribusinya terhadap
perekonomian cukup besar. "Pemerintahan Andi Rachman sudah berhasil dan terus
mendorong pertumbuhan sektor jasa untuk menopang perekonomian daerah agar lebih
berdaya tahan," tukas mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Kota Batam ini.
Bahkan hasil terakhir Analisis BI, tuturnya, diperkirakan mulai
Triwulan III Thun 2017 perekonomian Riau mulai membaik, karena ditopang
permintaan domestik yang kuat dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi dengan migas
sekitar 3, 19 % YoY, yang didukung peningkatan konsumsi rumah tangga, konsumsi
pemerintah di akhir tahun, dan peningkatan ekspor.
Riau Lima Besar Nasional
Perlu diketahui juga bahwa Perekonomian Riau memberikan share
terbesar kelima nasional (5,04%) bersama sama DKI Jakarta (17,36 %), Jawa Timur
(14,60), Jawa Barat (13,13 %), dan Jawa Tengah (8,6%). Artinya, ungkap pria
kelahiran dan besar di Indragiri Hilir ini, andil ekonomi Riau terbesar pertama
di Sumatera/luar jawa.
"Kalau membandingkan sesuatu itu mestinya apple to apple.
Kalau membandingkan ekonomi Riau kurang tepat dengan Sumbar, Jambi, dan
provinsi yang berbeda potensi dan keunggulannya. Bandingan Riau adalah Kaltim,
dan ternyata kinerja ekonominya hampir sama dengan Riau. Bahkan untuk
indikator-indikator tertentu, Riau lebih unggul," ujar pria low profile
ini. Untuk diketahui, ungkapnya lagi, bahwa serapan APBD Riau sudah
membaik. Dari 63 % tahun 2014, 68 % tahun 2015, menjadi 84,19 % tahun 2016.
Hasil itu semua dengan kerja keras, memacu program sambil membenahi
masalah-masalah masa lalu.
Alhamdulillah, sebutnya lagi, perencanaan, penganggaran, dan
pengelolaan aset yang diurus Pemerintahan Andi Rachman sudah kembali ke track
(on the track). Pengelolaan aset dari kondisi amburadul, tidak
terinventarisasi, tidak terurus, tidak tertib. Saat ini sudah mulai tertib.
Yang sebelumnya belum ada nilai buku yang valid, bertahap dibenahi dari nilai
perolehan Rp9 triliun tahun 2015, Rp25 triliun tahun 2016, dan hasil LHP BPK
tahun 2017 tercatat dan tervalidasi Rp33 triliun.
"Itu semua adalah kerja recovery yang membutuhkan
kesungguhan, dengan niat tulus ikhlas membenahi administrasi pemerintahan agar
bisa membangun Riau lebih baik untuk selanjutnya," pungkas Ahmad Hijazi.
Sumber : http://radarpekanbaru.com/news/detail/7576/menurut-ketua-ika-ur-,-ahmad-hijazi-:-di-tangan-andi-rachman,-provinsi-riau-mulai.html






Post a Comment