Guru Besar UR Adakan Program Kemitraan di Desa Banglas Barat
terasunri.blogspot.co.id - Melimpahnya sumber dasar membuat Mie Sagu di Desa Banglas Barat, Kabupaten Meranti membuat Guru Besar Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau (UNRI), Prof. Dr Dewita, MS sebagai Ketua tim dan anggota, Ir. Syahrul, MS tertarik dan datang ke UMKM Pengolah Mie Sagu untuk memadukan fortifikasi Ikan dan Mie Sagu dengan berbagai warna dan rasa, Senin (7/8/17).
Didampingi Kepala desa Banglas Barat, Asnawi Nazar, SPi dan sejumlah
staf Dinas Perikanan, Dinas Perindustrian, Tokoh masyarakat dan personil UMKM
Pengolahan Mie Sagu, Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang ditaja Tim PKM
LPPM UNRI berlangsung khusuk dalam memperkenalkan cara mengolah mie sagu ikan
dengan aneka warna dan rasa.
Dalam praktek pelatihan itu, Prof. Dr Dewita MS menjelaskan jika mie sagu akan diolah yang dikombinasikan dengan fortifikasi konsentrat ikan seperti ikan teri dan udang serta pewarna alami.
“Kami lirik UMKM yang mengolah mie sagu di Kabupaten ini, karena banyak produksinya dan kita ingin berikan pencerahan agar ada peningkatan mutu dari mie sagu,”ujar Anggota Tim Pelaksana Pelatihan, Syahrul.
Dakatakan Syahrul, selama ini protein yang terkandung
dalam mie sagu sangat rendah, untuk itu perlu dilakukan kombinasi fortifikasi
dengan konsentrat ikan dan udang agar kandungan proteinnya meningkat. Saat ini
kadar protein yang ada didalam mie sagu hanya berkisar 0,3 persen dan jika
dilakukan kombinasi dan fortifikasi dengan kandungan ikan, kadar proteinnya
akan meningkat Menjadi 5,75 hingga 8,75 persen.
Senada, Dewita mengatakan, Fortifikasi konsentrat ikan teri dan
udang selain menambahkan protein, juga akan memperkenalkan mie sagu instan.
Dengan mie sagu instan ini, kadar air yang terkandung didalamnya menjadi
sedikit karena mie sagu yang ada sekarang ini kadar airnya cukup tinggi,
sekitar 50 persen sehingga daya tahannya tidak lama dan agar dapat bertahan
lama, perlu dibuat mie sagu instan.“Setelah mie sagu instan itu dicetak, akan
ada proses pengering seperti Oven atau alat lainnya,”terang Dewita.
Ditambahkan Dewita, bahan baku yang digunakan untuk konsentrat ikan
teri dan udang yang itu diklaim dan paling terpenting harganya murah dan banyak
tersedia. Tampak dalam pelatihan itu digunakan bahan dasar ikan teri dan udang
rebon (pepai) serta pewarna alami, daun katu dan beras angkak.“Untuk kemasan,
lebih baik menggunakan kemasan kombinasi ganda seperti berbahan alumunium foil
dan plastic HDPE dan disimpan ditempat dingin,”ucap Dewi member ide.
Dalam prakteknya, Kegiatan PKM Pengabdian ke Masyarakat
itu juga mendapat dukungan dana pelaksanaan dari Kemenristekdikti melalui
Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM).










Post a Comment